Sebuah Minifesto untuk Tak -Mendisiplinkan Politik Ekologi

Marco Armiero, Stefania Barca, dan Irina Velicu

Marco Armiero adalah seorang sejarawan lingkungan dan ahli politik ekologi. Topik studi utamanya adalah konflik lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam, politisasi alam dan lansekap, dan dampak lingkungan dari migrasi massal. Dia adalah direktur KTH Environmental Humanities Laboratory di Royal Institute of Technology, Stockholm.

Stefania Barca adalah seorang peneliti senior pada Center for Social Studies, University of Coimbra, tempat dia mengajar sebuah mata kuliah untuk pasca sarjana tentang Politik Ekologi dan mengoordinir Oficina de Ecologia e Sociedade. Dia turut mendirikan ENTITLE, dan menjadi koordinator program konferenensi Undisciplined Environments tahun 2016.

Irina Velicu adalah seorang ilmuwan politik bekerja tentang konflik sosial-lingkungan di negara-negara pasca komunis di Center for Social Studies, University of Coimbra, Portugal. Publikasinya dapat dijumpai di pelbagai jurnal, seperti Theory, Culture and Society, Environmental Politics, Ecological Economics, Geoforum, New Political Science, and Globalizations. Dia mendapatkan gelar PhD di bidang ilmu politik dari University of Hawaii (USA)

Tulisan ini merupakan sebuah refleksi atas konsep yang akhirnya menamai ruang ini. Ruang ini adalah sebuah ajakan belajar untuk mengabaikan batas-batas disiplin di dunia akademia. Kami mengajak Anda untuk melibatkan diri lebih dalam pada refleksi personal dan aksi-aksi yang menghubungkan ragam bentuk perjuangan kita. Kami mengundang Anda untuk “membangun kumpulan-kumpulan kepedulian lintas batas daripada membatasi diri pada sekat-sekat disiplin akademis” dan “menyelidiki diri kita masing-masing sebagai peneliti.”

Beberapa tahun lalu, salah satu dari kami mengajar mata kuliah Political Ecology dan memberikan makalah untuk dikomentari para mahasiswa. Salah satu makalah tersebut; ditulis oleh seorang sarjana feminis, mengambil sebuah pendekatan yang sangat personal. Reaksi para mahasiswa sangatlah menarik. Mereka sangat simpatik tapi tidak tahu apa yang bisa diperbuat terhadap makalah tersebut: bagaimana membuat catatan atas makalah tersebut, dan pesan-pesan apa yang bisa dibawa pulang. Kisah ini menunjukkan bahwa kaum terpelajar sudah terlampau terbiasa dengan gaya menulis akademik dengan segala aturannya bahkan sampai kita kehilangan kemampuan untuk menghubungkan dan mengembangkan sesuatu dari hal yang tak mematuhi aturan-aturan akademis keilmuan yang ada. Tampaknya, kita tidak mampu belajar dari sesuatu yang tidak biasa; hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan pola yang biasa kita gunakan untuk menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan.

Kesadaran ini membuat kami merasakan adanya kesulitan. Banyak orang mengetahui bahwa Politik Ekologi (PE) berasal dari luar ranah akademis, sebagai sebuah bentuk militan dari pengetahuan, dengan tujuan untuk mengubah dunia daripada sekadar memahaminya. Sebuah tujuan yang telah bertahan selama bertahun-tahun dan masih dapat dijumpai di sebagian besar tulisan-tulisan akademis tentang PE. Meskipun begitu, kami malah sering kali merasa tidak nyaman dengan kontradiksi-kontradiksi yang dialami saat mempraktikkan PE. Begitu kami berhasil menembus benteng akademik, kami pun bisa mengajukan bacaan-bacaan yang tidak konvensional. Dan meskipun telah mencapai tahap ini, tetap ada rasa yang mengganjal karena kami belum mempengaruhi sifat elitis para akademisi, bahkan mungkin justru kami yang terbawa arus elitisme para akademisi (Winter Palace di tulisan asli). Kami berpikir, mungkin dalam suatu proses menembus dunia akademis, Politik Ekologi sudah berjuang terlalu banyak untuk “memvalidasi” dirinya sebagai sebuah disiplin (mempraktikkan multi-, inter-, dan bahkan trans-disiplinaritas). Alih-alih justru meragukan konsep tentang “disiplin” itu sendiri.

Kami merintis refleksi tentang kedisiplinan dan ketakdisiplinan dalam pengembangan PE melalui pengalaman yang menempa kami—bersama dengan sekelompok besar kolega dan teman yang berpikiran sama dalam proyek European Network of Political Ecology (Jaringan Politik Ekologi Eropa/ENTITLE)—untuk menyelenggarakan konferensi Undisciplined Environments di Stockholm tahun 2016. Kami menerima respons dengan antusiasme tinggi. Pengalaman tersebut mendorong kami untuk memandang serius ketakdisiplinan sebagai sebuah perangkat untuk mempraktikkan Politik Ekologi. Namun, begitu kotak hitam ketakdisiplinan terbuka, kami segera mendapati bahwa kami kewalahan menjawab sejumlah pertanyaan. Apa saja resiko dari gaya semacam itu, dan apakah hanya risiko saja (yang perlu kita pertimbangkan)? Apa yang harus dilakukan pada data, atau bukti apapun? Apakah “salah tafsir” atau “validasi” dimungkinkan, atau bahkan penting dalam pendekatan tak-disiplin? Di manakah letak makna pribadi/emosional? Apakah tak-mendisiplinkan terasa seperti “pembebasan” (liberation) ataukah dia mendesakkan “kemerdekaan” (freedom)? Apakah dia memiliki program atau tujuan, ataukah hanya sebuah kritik subversif? Apakah kita sedang bicara beda dalam bentuk metodologi, teori, atau narasi? Apakah ketakdisiplinan adalah persoalan “menjadi” (to be) ataukah persoalan “melakukan” (to do)? Apakah kita tidak dapat menggabungkannya dengan kreativitas atau inovasi?

Kami masih dalam sebuah proses pencarian untuk memahami bagaimana sebuah artikel tak-disiplin seharusnya ditulis. Kami merasakan semua ironi dan mungkin inkonsistensi dalam mendisiplinkan pencarian kami terhadap ketakdisiplinan. Lebih dari sekadar menulis dengan gaya berbeda di dunia akademis, kami tertarik dengan bagaimana melepaskan diri dari kanon akademis yang bila tidak membosankan, menindas. Alih-alih mencari “model-model” yang tak-disiplin (atau mendisiplinkan ketakdisiplinan), kami tetap berpegang teguh pada peristiwa Mei 1968 sebagai sebuah subversi kolektif yang demokratis terhadap otoritas-otoritas ortodoks, ideologis, ilmiah atau partisan. Kami memiliki indikasi-indikasi bahwa ada berbagai cara untuk melakukannya. Konsep-konsep seperti keadilan “naratif” atau “kognitif” tidak akan muncul jika bukan karena pemikiran-pemikiran tertentu yang melepaskan diri mereka dari kanon tertentu. Hal ini berlaku juga karena mereka berpikir atau menciptakan teori-teori baru yang bercakap dengan perjumpaan-perjumpaan baru dengan kenyataan-kenyataan yang berbeda, yang sering disampaikan oleh “otoritas-otoritas” yang tak diakui dalam kesaksian, biografi, dan latihan etnografis-diri lainnya.

Dalam pemahaman kami dan pengalaman mengenai ketakdisiplinan, pribadi sangatlah penting. Berangkat dari praktik dan teori feminis, kami percaya bahwa tidak ada pembebasan tanpa memulai dari diri, tanpa mengakui posisionalitas diri, dan tanpa bekerja untuk membebaskan pikiran sendiri. Kami menyadari bahwa dalam proses pribadi menjadi “akademisi”, kami sering kali tersesat. Teks ini mewakili seruan bagi kaum terpelajar untuk menghubungkan perjuangannya dengan perjuangan yang lebih luas, untuk membangun kumpulan-kumpulan kepedulian ketimbang membatas diri pada sekat-sekat disiplin akademis, untuk menyelidiki ke dalam diri masing-masing sebagai peneliti.

Di sini kami menawarkan sebuah daftar berisi pemikiran yang muncul ketika mencoba memikirkan arti ketakdisiplinan dalam praktiknya. Pemikiran itu tidak diatur dalam sebuah argumen teoritis, tetapi hanya disempurnakan dan diekspos sebagai “asupan untuk pikiran” (food for thought) dalam sebuah pertemuan metaforis yang ramah bagi orang-orang yang memiliki keprihatinan sama terhadap kebutuhan untuk tak-mendisplinkan dunia akademis.

Ketakdisiplinan pada dasarnya atau seharusnya bukan sebuah pilihan rasional. Ketakdisiplinan berasal dari kisah pribadi Anda, dari kondisi-kondisi yang dihasilkan bukan oleh Anda sendiri. Pada saat yang sama, tak-mendisiplinkan diri sendiri adalah sebuah pilihan eksistensial. Itu berarti terus-menerus mempertanyakan pada diri yang terdisiplinkan tentang apa yang telah dilakukannya dalam hubungannya dengan orang lain, dengan dunia, dan dengan apa yang kita pelajari. Dan itu berarti membatalkan apa yang telah dilakukannya itu.

  1. Untuk menjadi tak-terdisiplinkan memerlukan latihan (diri) karena kita dilatih untuk menjadi disiplin. Ini bukan soal melakukan sesuatu secara berbeda. Ini secara tersirat mengajak kita untuk mempertanyakan identitas kita.

  2. Pribadi selalu bergender, tidak bisa sebaliknya. Gender selalu melekat pada semua yang kita lakukan dan menjadikan kita sebagai makhluk sosial, bahkan ketika kita menaturalisasikannya. Ini mungkin tampak sepele, tetapi ini masih menjadi dasar dari tak mendisiplinkan dunia akademis.

  3. Untuk menjadi tak-terdisiplinkan ada hubungannya dengan menjadi terbuka atau terpapar. Seseorang tidak bisa menjadi tak-terdisiplinkan tanpa menjumpai banyak kejutan yang penuh berisiko. Sedikit banyak, cara utama untuk tak-terdisiplinkan adalah dengan telanjang, secara metaforis, tanpa perlindungan akademis seperti biasanya.

  4. Menjadi tak-terdisiplinkan tidak mengharuskan Anda dikeluarkan dari dunia akademis. Kamuflase juga bisa menjadi suatu bentuk ketakdisiplinan. Mengambil alih kemudi kanon disipliner untuk menyabotase dunia akademis bisa sama efisiennya dengan menolaknya secara terbuka.

  5. Tak-disiplin dapat menjadi sebuah pilihan estetis. Dia dapat berupa sebuah pengalihan atau eksperimen akademis. Usulan kami adalah untuk membangun sebuah ketakdisiplinan yang berkomitmen secara politik, sesuatu menolak kode pendisiplinan karena tidak sesuai dengan agenda revolusioner yang bertujuan untuk menghasilkan hubungan-hubungan sosio-ekologis baru.

  6. Tak-disiplin adalah sebuah pilihan individual tetapi dengan komponen empati yang kuat. Seorang terpelajar yang benar-benar tak-terdisiplinkan mendukung setiap kolega yang berjuang untuk membebaskan diri mereka sendiri. Tujuan jangka pendeknya adalah untuk membentuk komunitas akademis yang otonom, tak-terdisiplinkan, dan terhubung satu sama lain. Tujuan jangka panjangnya adalah membebaskan akademisi dari praktik-praktik yang menindas.

  7. Tak-disiplin tidak dapat menjadi sebuah disiplin yang baru. Pengalaman dari sejarah lingkungan dan politik ekologi juga menunjukkan hal tersebut bahwa bidang yang potensial tak-terdisiplinkan dapat dengan mudah membentuk kanonnya sendiri.

  8. Menjadi tak-terdisiplinkan termasuk di dalamnya sebuah gerak menuju ketidaktaatan. Bagaimanapun caranya, seseorang harus melanggar agar tak-terdisiplinkan.

  9. Menjadi tak-terdisiplinkan berarti bersenang-senang.

  10. Menjadi tak-terdisiplinkan adalah sebuah proses pembebasan, bukan satu baris yang bisa disertakan dalam CV Anda. Seseorang tidak akan pernah sepenuhnya tak-terdisiplinkan dan akan terus mengambil haluan di antara kanon dan zona otonom, bertukar dengan sistem akademik yang disiplin dan dengan diri yang terdisiplinkan.

Kami merasa bahwa menjadi tak-terdisiplinkan dalam dunia akademis dapat menjadi bagian dari tujuan sosial yang lebih luas. Yaitu tujuan untuk meradikalkan dan mengubah cara berpikir secara politis tentang kondisi sosio-ekologis keberadaan manusia dan makhluk selain manusia. Ada banyak bentuk keilmuan yang tidak mendisiplinkan, dan cara mempraktekkannya yang menantang pendisiplinan yang menindas akademisi neoliberal. Dapatkah praktik-praktik berbeda ini menyatu, menjadi bagian dari Undisciplined Zone of Academia (Zona Akademis Tak-terdisiplinkan, UZA) yang lebih luas, seperti sebuah eksperimen Zapatista?

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan dalam Bahasa Inggris di: https://undisciplinedenvironments.org/2019/10/01/undisciplining-political-ecology-a-minifesto; diterbitkan pertama kali dalam Bahasa Indonesia di: http://pejuangtanahair.org/sebuah-minifesto-untuk-tak-mendisiplinkan-politik-ekologi/. Jurnal Eutenika merupakan salah satu mitra penerbitan artikel pilihan dari https://undisciplinedenvironments.org ke Bahasa Indonesia.

Artikel ini diterjemahkan oleh Salsabila Khairunisa, Jaga Rimba.

Tim penelaah terdiri dari: Dian Ekowati (mahasiswa S3 di Universitas Brighton, UK, Well Being, Ecology, Gender and Community Network (WEGO-ITN)/ Marie Sklodowska Curie Fellow); Siti Maimunah (pendiri Ruang Baca Puan, Mahasiswa S3 di Universitas Passau, Jerman, WEGO-ITN/ Marie Sklodowska Curie Fellow, www.wegoitn.org); Anton Novenanto (dosen Jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya; co-founder dan Direktur Eksekutif Perkumpulan Peneliti Eutenika); Mardha Tillah (associate RMI-the Indonesian Institute for Forest and Environment).