Volume 2

Hendro Sangkoyo

Bencana adalah gejala, proses atau kejadian —bergantung pada bingkai ruangwaktunya— yang bertalian dengan hilangnya atau terputusnya keterpenuhan syarat-syarat keselamatan dari serombongan makhluk hidup sebagai subyek penderitanya. Sampai hari ini, apa-apa yang bisa dan tidak bisa disebut bencana, kategorisasinya, genesis dan jejak-dibelakangnya, serta bagaimana memperlakukannya, merupakan domini otoritas politik/pengurusan-kenegaraan dan otoritas pengetahuan-resmi, keduanya berperan vital dalam pengawetan biopolitik se-Bumi. Dalam sistem dan praktik bertutur tersebut, kata-kerja mengerahkan, mengatasi dan mencegah, dalam urutan tersebut, ditempatkan dalam imajinasi rentang ruang-waktu bencana yang deterministik dan diperdebatkan. Di hadapan tafsir dan analitika dominan tersebut, ikhtisar ini hendak mengemukakan soal bencana sebagai bagian tak terpisahkan dari kondisi kehidupan si subyek di tengah krisis berdimensi ekologis dan kemanusiaan. Fokus pemeriksaan adalah pada dinamika gejala bencana dalam konteks urbanisme-industrial—moda metabolisme sosial dominan pada zona ruang dan masa hidup kita. Bertumpu terutama pada pemahaman dari proses belajar-bersama selama dua dekade belakangan, diskusi bertitik-berat pada duduk-perkara bencana, ragam jenis waktu dan jenis ruang dari gejala bencana, peran-peran sosial dan bagi-kerja dalam pengurusannya, serta transformasi ekonomistik dari cakap-bencana beserta politik-pengerahan yang menyertainya. Transformasi tersebut menyingkap jejak kepentingan kolonial dan imperial maupun watak rasis dan patriarkis yang melekat padanya, termasuk dalam prinsip-prinsip tentang bagaimana derita dan si subyek penderita harus diperlakukan dan ditaksir nilainya.

Syaiful Anam

Dalam buku itu, Tsing mengulas tentang jamur matsusake yang tumbuh dan berkembang di tempat atau ruang ekologis yang hancur. Jamur matsusake menjadi komoditas penting di Jepang sebagai penanda kembali bangkitnya kapitalisme Jepang pasca keterpurukan akibat Perang Dunia II. Buku penting untuk mengulas secara teoritik tentang apa itu “kapitalisme” dan bagaimana dia bekerja.

Syaiful Anam

The Culture of Disaster (2012) menjadi pintu pembuka untuk membantu pencapaian pemahaman atas kondisi pandemi yang sedang terjadi dengan merefleksikan apa yang terjadi di masa lalu. Fenomena wabah bukan sesuatu yang terpisah dari diri kehidupan manusia. Wabah hadir bersamaan dengan tafsir yang dikenakan padanya.

Siti Maimunah & Sarah Agustiorini

Meningkatnya tekanan dari industri ekstraktif pada Sungai Mahakam di Kalimantan, sungai terbesar kedua di Indonesia, berisiko merusak sebuah “commons” atau kepemilikan bersama. Namun warga secara aktif mengorganisir untuk merebut kembali sungai sebagai ruang hidup bersama.

Alexander Dunlap

Dunia saat ini mengalami degradasi, konflik dan dampak iklim kumulatif luar biasa yang disebabkan oleh ekspansi industrial. Kenyataan ini menuntut pengistilahan baru untuk megaproyek ekstraktif dan infrastruktur. Alih-alih disebut sebagai “pembangunan”, mereka lebih cocok disebut ‘cacing’ dan ‘gurita’ iblis, serta konstruksi para pemangsa-dunia.

Marco Armiero, Stefania Barca, dan Irina Velicu

Kami mengajak Anda untuk melibatkan diri lebih dalam pada refleksi personal dan aksi-aksi yang menghubungkan ragam bentuk perjuangan kita. Kami mengundang Anda untuk “membangun kumpulan-kumpulan kepedulian lintas batas daripada membatasi diri pada sekat-sekat disiplin akademis” dan “menyelidiki diri kita masing-masing sebagai peneliti.”

Syaiful Anam

Kabar buruk tentang kematian yang diakibatkan oleh virus korona menghantui semua masyarakat di dunia, dari pelbagai lapisan sosial dan ekonomi. Petani menjadi subjek rentan jauh sebelum masa pandemi sebab dalam relasi sosial-ekonomi mereka adalah kelompok marginal. Saat wabah datang, krisis yang mereka hadapi jauh lebih kompleks daripada sebelumnya. Mungkinkah masih ada jalan keluar dari kebuntuan krisis untuk keduanya?